Monday, January 19, 2015

Analisa Teknikal Open High Low Close (OHLC), Bagian 1

[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]


Pos-pos dalam seri ini adalah lanjutan dari seri "Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula." Sebelum membaca pos ini, ada baiknya anda membaca lagi pos tersebut.

Sudah?

Di pos "Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula" tersebut saya menunjukkan apa yang harus anda perhatikan dari harga Open, High, Low, dan Close.

Masih ingat?



A. Open (Buka) 

1. Kalau harga saham Open di Prv Price*, hal ini tidak berindikasi apa-apa.
 
2. Kalau harga saham Open di atas Prv Price, saham tersebut relatif Bullish. Semakin tinggi Open di atas Prv Price dan semakin lama Open bertahan di atas Prv Price, semakin Bullish.

3. Kalau harga saham Open di bawah Prv Price, saham tersebut relatif Bearish. Semakin rendah Open di bawah Prv Price dan semakin lama Open bertahan di bawah Prv Price, semakin Bearish.

[* Prev Price adalah sama dengan Close hari sebelumnya.]


B. High (Tinggi) & C. Low (Rendah)

1. Kalau High hari ini lebih tinggi dari High kemarin (dalam bahasa Inggris, kondisi ini disebut HIGHER HIGH), saham tersebut relatif Bullish. Semakin tinggi High hari ini di atas High kemarin, semakin Bullish.

2. Kalau High hari ini lebih rendah dari High kemarin (dalam bahasa Inggris, kondisi ini disebut LOWER HIGH), saham tersebut relatif Bearish. Semakin rendah High hari ini di bawah High kemarin, semakin Bearish.

3. Kalau Low hari ini lebih tinggi dari Low kemarin (dalam bahasa Inggris, situasi ini disebut HIGHER LOW), saham tersebut relatif Bullish. Semakin tinggi Low hari ini di atas Low kemarin, semakin Bullish.

4. Kalau Low hari ini lebih rendah dari Low kemarin (dalam bahasa Inggris, situasi ini disebut LOWER LOW), saham tersebut relatif Bearish. Semakin rendah Low hari ini di bawah Low kemarin, semakin Bearish.

5. Kalau kita mengkombinasikan High dan Low, kondisi (relatif) paling Bullish adalah bila High hari ini lebih tinggi dari High kemarin DAN Low hari ini lebih tinggi dari Low kemarin.(Higher High DAN Higher Low.)

6. Kebalikannya, kondisi (relatif) paling Bearish adalah bila High hari ini lebih rendah dari High kemarin DAN Low hari ini juga lebih rendah dari Low kemarin. (Lower High DAN Lower Low.)


D. Close/Last (Tutup)

1. Kalau Close hari ini lebih tinggi dari Close kemarin artinya saham tersebut relatif bullish. Makin tinggi Close hari ini di atas Close kemarin, makin Bullish.

2. Kalau Close hari ini sama dengan Close kemarin, tidak ada yang bisa disimpulkan. Kita perlu mengacu pada indikator lain untuk mengambil kesimpulan.

3. Kalau Close hari ini lebih rendah dari Close kemarin, artinya saham tersebut relatif bearish. Makin rendah Close hari ini di bawah Close kemarin, makin Bearish.

4. Kalau Close di atas harga Open, saham tersebut relatif Bullish. Makin tinggi Close di atas harga Open, makin Bullish.

5. Kalau Close di harga Open, kondisi saham tidak bisa disimpulkan tanpa indikator lain.

6. Kalau Close di bawah harga Open, saham tersebut relatif Bearish. Makin rendah Close di bawah harga Open, makin Bearish.

7. Kalau harga saham Close (relatif) dekat dengan High, saham tersebut (relatif) Bullish. Semakin dekat Close dengan High, semakin Bullish. 

8. Kalau harga saham Close (relatif) dekat dengah Low, saham tersebut (relatif) Bearish. Semakin dekat Close dengan Low, semakin Bearish.

9. Semakin besar rentang antara High dan Low, Close yang semakin dekat dengan High menandakan saham tersebut (relatif) semakin Bullish.

10. Semakin besar rentang antara High dan Low, Close yang semakin dekat dengan Low menandakan saham tersebut (relatif) semakin Bearish.


---#$#---

Ingatan anda sudah segar?

Sebelum kita diskusi lebih lanjut, tahukah anda harga manakah yang paling penting di antara Open, High, Low, Close?

Di pos "Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula, Bagian 4" saya menyatakan bahwa mayoritas pemain saham menganggap harga Close adalah harga yang paling penting. Tapi pandangan tersebut tidak 100% tepat.

Kok begitu?

Karena dalam konteks data historikal, harga Close bisa jadi adalah data harga (relatif) paling penting. Tapi harga High dan Low juga tidak kalah penting.

Jadi kalau kita urut, ranking 1 adalah Close; sama-sama ranking 2 beda tipis dengan Close adalah High dan Low.

Bagaimana dengan harga Open?

Dalam konteks data historikal, data Open TIDAK PENTING.

Lho kok bisa? Apakah ini berarti Open tidak penting sama sekali?

Bukan begitu.

Memang, secara data historikal, harga Open tidak penting. Tapi Open adalah data yang penting PADA SAAT harga tersebut TERJADI. Atau dengan kata lain: Open penting tapi hanya pada saat Open terjadi dan hanya penting sampai dengan harga Close terbentuk.

Bingung?

Pernyataan ini akan lebih jelas kalau anda membaca kembali apa saja yang kita bandingkan dari harga Open.

Perhatikan bahwa pada saat bursa dibuka, kita membandingkan Open hari ini dengan Prev Price (pernyataan A1, A2, A3 di atas).

Pada hari itu kita juga membandingkan Open dengan Close hari tersebut (pernyataan D4, D5, D6).

Perhatikan bahwa kita TIDAK PERNAH membandingkan Open hari ini dengan Open hari sebelumnya.

Hal ini berbeda dengan harga High, Low, dan Close.

Saat membandingkan harga High, Low, dan Close, kita membandingkan High hari ini dengan High hari sebelumnya (pernyataan B&C 1 dan B&C 2), Low hari ini dengan Low hari sebelumnya (pernyataan B&C 3 dan B&C 4), Close hari ini dengan Close hari sebelumnya (pernyataan D1, D2, D3).

Nah, saat membandingkan harga High, Low, Close, kita bisa membandingkan High, Low, Close bukan hanya dengan High, Low, Close hari sebelumnya tapi juga dengan High, Low, Close hari-hari sebelumnya. Hal inilah yang dimaksud bahwa High, Low, Close penting dalam konteks data historikal.

Bagaimana dengan Open?

Karena kita tidak pernah membandingkan Open dengan Open hari-hari sebelumnya, ini menyiratkan bahwa data Open tidak penting dalam konteks data historikal.

Cukup jelas?

Sekarang saatnya kita belajar lebih mendalam tentang analisa Open, High, Low, Close. Silahkan lanjut baca ke pos "Analisa Teknikal Open, High, Low, Close (OHLC), Bagian 2." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]







Pos-pos yang berhubungan:

Thursday, December 25, 2014

Analisa Volume Transaksi Saham Untuk Pemula. Perlukah?

[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]


Saya sering mendapat pertanyaan tentang analisa teknikal volume saham. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bagus dan menunjukkan bahwa si penanya antusias untuk belajar analisa teknikal.

Masalahnya, mayoritas penanya adalah pemula dalam belajar analisa teknikal saham.

Jawaban saya kepada mereka selalu sama: belum saatnya belajar analisa volume transaksi saham kalau belum menguasai dengan baik dasar-dasar analisa teknikal harga saham.

Apakah ini berarti analisa volume tidak penting?

Bukan. Tidak begitu.

Analisa volume transaksi—yang adalah bagian dari analisis teknikal—perlu dipelajari untuk mengerti analisa teknikal secara keseluruhan.

Tapi . . .

Analisa volume transaksi TIDAK PENTING anda ketahui kalau anda belum mengerti dengan baik dasar-dasar analisa harga.

Mengapa?

Karena kalau anda belum mengerti dengan baik pergerakan harga saham, menambah variabel baru (volume) tidak akan membantu membuat analisa anda menjadi lebih baik.

(Silahkan baca juga pos "Banyak Data = Pasti Untung?")

Untuk mempermudah anda mencerna makna kalimat di atas, ada baiknya saya membandingkan belajar analisa teknikal dengan belajar menggambar.

Saat belajar menggambar, pertama-tama anda belajar menggambar dengan pensil. Setelah bisa menggambar bentuk dengan pensil, barulah saatnya anda mempertimbangkan untuk membubuhkan warna ke bentuk tersebut.

Coba anda pikirkan: kalau gambar anda masih seperti cakar ayam dan orang lain tidak bisa membedakan apakah itu gambar rumah atau pohon cemara atau ayam atau wajah anda, apakah menambahkan warna akan membuat gambar tersebut lebih jelas?

Tentu saja tidak.

Gambar tersebut hanya berubah menjadi cakar ayam berwarna.

Lagipula, kalau anda bisa menggambar dengan baik menggunakan pensil, kadang anda tidak perlu menambah warna untuk memperindah gambar tersebut. Tidak percaya? Silahkan lihat contoh gambar di bawah yang hanya menggunakan pensil.

Figure 1. House by the River Drawing by Andrew Tift; Created Using Derwent Charcoal Pencil

Apa artinya dalam konteks Analisa Teknikal?

Artinya, dengan berbekal hanya analisa harga anda seharusnya sudah bisa membuat trading plan yang menguntungkan. Artinya juga, jangan berpikir bahwa analisa harga anda yang masih awut-awutan akan menjadi lebih baik kalau anda mendalami analisa volume.

Jadi kalau anda adalah analis teknikal pemula, jauh lebih baik anda curahkan (hampir) seluruh waktu anda untuk mempelajari gerak harga saham. Nah, setelah anda menguasai dengan baik dasar-dasar analisa teknikal harga, baru deh silahkan mempelajari analisa teknikal volume.

(Perhatikan juga bahwa MAYORITAS indikator Analisa Teknikal adalah indikator analisa harga. Dari fakta ini saja tercermin bahwa—menurut mayoritas analis teknikal profesional—HARGA lebih penting daripada volume.)  

Tapi bung Iyan, kata anda, bagaimana cara tahu bahwa saya sudah tahu dasar-dasar analisa teknikal harga dan sudah saatnya belajar tentang volume?

Terus terang, tanpa diskusi langsung dengan anda, saya sulit memberi jawaban yang hitam-putih.

Tapi, coba anda jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

1. Mana yang relatif lebih bullish: Close > Prv Price tapi Prv Price > Open atau Prv Price > Close tapi Open > Prv Price? Mengapa?

2. Saham XYZ naik 20% dalam 24 bulan terakhir. Apakah saham tersebut uptrend, downtrend, atau sideway? Mengapa?


Nah, kalau anda bisa menjawab dengan benar pertanyaan di atas bahkan saat anda baru saja bangun tidur, bolehlah anda pertimbangkan untuk belajar analisa volume saham.






Pos-pos yang berhubungan:

Friday, October 31, 2014

Arti Istilah "Trading Plan"

[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Mungkin anda sering mendengar atau membaca nasehat bahwa dalam bertransaksi saham anda harus menyiapkan "trading plan."

Apa sih yang dimaksud dengan "trading plan"?

Nah, di pos ini saya akan membahas apa sebenarnya arti "trading plan," siapa saja yang harus menyiapkan "trading plan," mengapa harus menyiapkan "trading plan," dan mengapa mayoritas pemain saham tidak menyiapkan "trading plan."

Mari kita mulai.


Arti Trading Plan

trading = beli-jual atau jual-beli
plan = rencana

Jadi, trading plan artinya adalah rencana beli-jual, atau lebih tepatnya rencana beli dan rencana jual.

[Sebenarnya, yang lebih tepat adalah "rencana membuka posisi" dan "rencana menutup posisi."

Mengapa?

Karena di bursa tertentu, pemain saham bisa "membuka posisi" dengan menjual saham pinjaman (transaksi short-sell).

Tapi karena mayoritas pemain saham Indonesia tidak bisa bertransaksi short-sell, maka dari itu di pos ini saya mengidentikkan "rencana membuka posisi" dengan "rencana beli" dan "rencana menutup posisi" dengan "rencana jual."]


Siapa Yang Harus Menyiapkan Trading Plan

Kalau anda membaca buku ataupun blog saham, biasanya "trading plan" diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai "rencana trading."

Saya tidak suka terjemahan ini karena frase "rencana trading" bisa disalahtafsirkan seakan-akan hanya pemain saham jangka pendek (yang melakukan "trading") yang harus menyiapkan Trading Plan.

Padahal, semua orang yang berharap mendapatkan untung dari saham harus menyiapkan Trading Plan.

SEMUA orang.

Tidak terkecuali apakah ia pemain saham jangkan pendek (trader) ataupun pemain saham jangka panjang (investor). Tidak peduli apakah tujuannya adalah spekulasi atau investasi. Tidak peduli apakah ia laki-laki atau perempuan, tua atau muda, bermodal kecil atau besar, berpendidikan tinggi atau tidak. Pokoke, kalau berharap mau untung, HARUS menyiapkan Trading Plan.

Dengan kata lain, anda TIDAK PATUT BERHARAP bisa konsisten untung dari saham kalau anda tidak menyiapkan Trading Plan.


Mengapa Harus Menyiapkan Trading Plan

Misalkan anda seorang pelaut dan ingin berlayar dari Jakarta menuju Pontianak. Apakah anda langsung naik ke kapal, menarik jangkar, dan langsung berangkat? Tanpa mengecek kondisi cuaca? Tanpa memeriksa apakah alat navigasi berfungsi dengan baik? Tanpa memeriksa kondisi dan ketersediaan alat keselamatan seperti sekoci dan pelampung?

Tentu saja tidak. (Kecuali kalau anda memang tidak berniat sampai di tujuan dengan selamat.)

Nah, Trading Plan adalah seperti persiapan yang dilakukan pelaut profesional sebelum berlayar.

Sang pelaut akan mengecek laporan cuaca, apakah cuaca memungkinkan untuk berlayar dengan aman sampai tujuan. Ia juga akan memeriksa bahwa alat navigasi, apakah semuanya bekerja dengan baik. Tak lupa ia juga memastikan bahwa sekoci dan pelampung berkondisi baik, kalau-kalau alat-alat keselamatan tersebut diperlukan.

Memang, perencanaan yang baik tidak menjamin si pelaut pasti akan tiba di tujuan dengan selamat. Tapi tanpa perencanaan sama sekali, kemungkinan sangat kecil si pelaut akan sampai di tujuan dengan selamat.

Kalau pemikiran di atas kita terapkan pada Trading Plan bisa kita artikan bahwa menyiapkan Trading Plan TIDAK MENJAMIN anda pasti UNTUNG. Tapi tidak menyiapkan Trading Plan berarti HAMPIR PASTI anda akan BUNTUNG.


Mengapa Mayoritas Pemain Saham Tidak Menyiapkan Trading Plan?

Saya katakan di atas bahwa kalau anda berharap ingin mendapat untung dari saham, anda harus menyiapkan Trading Plan.

Pertanyaannya: mengapa mayoritas pemain saham tidak menyiapkan Trading Plan?

Apakah karena mereka tidak mau untung dan pengen rugi?

Tentu saja tidak.

Survei membuktikan bahwa semua orang terjun bermain saham karena berminat mendapatkan untung. Kalau gitu, mengapa mereka tidak menyiapkan Trading Plan?

Menurut saya, ada beberapa alasan.

Alasan pertama: tidak tahu cara membuat Trading Plan.

Nah, menasehati pemula untuk menyiapkan Trading Plan adalah laksana menyuruh balita yang baru belajar membaca A, B, C, D, untuk menulis artikel untuk surat kabar.

Bagaimana mungkin bisa menulis artikel padahal menulis satu kata saja belum bisa?

Menulis artikel yang menarik dan enak dibaca bukanlah hal mudah, bahkan bagi individu yang bergelar sarjana dan sudah membaca-menulis bertahun-tahun.

Demikian juga dengan Trading Plan. 

Membuat Trading Plan bukanlah hal mudah, bahkan bagi individu yang sudah main saham bertahun-tahun. Apalagi bagi pemula.

Jadi, menasehati pemula untuk menyiapkan Trading Plan tanpa menjelaskan caranya adalah nasehat yang baik tapi sama sekali tidak membantu. 

Alasan kedua: tidak menyadari bahwa Trading Plan harus mencakup rencana beli dan rencana jual.

Maksudnya?

Hampir semua pemain saham mencurahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk rencana beli. Mereka menganggap bahwa kalau sudah merencanakan beli dengan benar, keuntungan pasti diraih.

Akibatnya, setelah membeli saham hampir semua pemain saham tidak tahu apa yang harus selanjutnya dilakukan. Di benak mereka, sekarang saatnya menunggu.

Menunggu apa?

Tunggu saham naik, kata mereka

Kalau tidak naik?

Tunggu sampai naik.

Kalau turun?

Ya tunggu naik.

Kalau terus turun?

Ya terus menunggu.

Kalau setelah itu naik?

Tunggu naik sampai mencapai harga beli.

Kalau sudah mencapai harga beli?

Tunggu naik sampai target keuntungan.

Kalau sudah mencapai target keuntungan?

Tunggu naik lebih tinggi lagi.

Kalau sudah naik lebih tinggi?

Tunggu naik LEBIH tinggi lagi.

Kalau setelah itu turun?

Kok masih nanya sih? Ya tunggu sampai naik lagi.

Lho?

Kalau bisa untung dari saham hanya dengan cara menunggu, bisa jadi tidak ada pemain saham yang rugi. Apakah semudah itu?

Tentu saja tidak.

Maka dari itu, ketika membuat Trading Plan jangan melulu memikirkan rencana beli saja. Curahkan juga waktu dan pikiran untuk memikirkan rencana jual.


Oke, kata anda. Sekarang saya sadar bahwa Trading Plan sangat penting. Bagaimana cara membuatnya?

Sebelum mulai membuat Trading Plan yang spesifik dan lengkap, anda perlu lebih dulu tahu langkah-langkah membuat rencana beli dan rencana jual. Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Langkah-langkah Membuat Trading Plan." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]







Pos-pos yang berhubungan: