Jumat, 18 April 2014

Bijaksanakah Membeli/Menjual Saham Hanya Berdasarkan Bid/Offer?

[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Menjelang pemilihan caleg (atau calon bupati atau calon gubernur atau calon presiden atau calon-calon lainnya) anda mungkin melihat baliho-baliho pas foto raksasa caleg disertai pesan seperti ini: "Mohon doa restu. Coblos Akil Modar, nomor urut 4 dari PSK (Partai Suka Korupsi)."

Selain baliho, para calon juga menempel poster di tembok, pagar, tiang listrik.

"Pilih saya," kata poster yang satu, "Jujur menjalankan amanat rakyat."

"Anti-korupsi," kata poster yang lain tidak mau kalah gombal. "Pilihlah saya."

Pertanyaan saya: Ketika tiba saatnya anda untuk memilih, apakah anda memilih berdasarkan janji surga, slogan gombal, pepesan kosong di baliho atau poster si caleg?

"Tentu tidak," jawab anda. "Hanya orang bodoh saja yang percaya pada kata-kata bohong seperti itu."

"Kalau anda tidak memilih berdasarkan baliho dan poster," tanya saya, "bagaimana cara anda menentukan pilihan?"

"Saya memilih berdasarkan track-record dan prestasi masa lalu si calon," jawab anda. "Kalau ia seorang incumbent (petahana), saya akan lihat apakah ia merealisasikan janji-janjinya pada pemilu sebelumnya. Kalau ia belum pernah menjabat, saya akan coba melihat track-record dan prestasi di pekerjaan terdahulunya."

100% setuju.

Anda memilih TIDAK berdasarkan iklan, janji, slogan yang digembuskan si caleg. Anda memilih berdasarkan hasil nyata, berdasarkan fakta dan bukti.

Amat sangat bijaksana.

"Tapi," tanya anda, "apa hubungan pemilihan caleg dengan pos ini yang berjudul Bijaksanakah Membeli/Menjual Saham Berdasarkan Bid/Offer?"

Sudah saya tunggu-tunggu pertanyaan ini.

Hubungannya adalah:
Membeli saham hanya berdasarkan Bid/Offer sama saja dengan memilih caleg hanya berdasarkan baliho atau poster.

Hah?

Mari kita bahas.

Di pos "Istilah 'Bid' dan 'Offer' Ketika Bermain Saham" saya mendefinisikan Bid dan Offer sebagai berikut:

Figure 1. Tampilan Bid/Offer Inco 17 April 2014 di HOTS Daewoo Securities

Bid = penawaran beli, minat beli, antri beli.
Offer = penawaran jual, minat jual, antri jual.

Nah, yang namanya minat beli tidak berarti pasti dapat; yang namanya minat jual tidak berarti pasti laku.

Hanya karena anda berminat menjadi pacar Taylor Swift tidak berarti anda akan menjadi pacar Taylor Swift. Minat anda akan terlaksana hanya kalau Taylor Swift bersedia menjadi pacar anda. 

Dengan kata lain, Bid (minat beli) anda akan terlaksana hanya kalau ada pihak lain yang menjual saham ke anda pada harga Bid tersebut; Offer (minat jual) anda akan terlaksana hanya kalau ada pihak lain yang membeli saham dari anda pada harga Offer tersebut.

Masalahnya, sebelum minat beli dan/atau minat jual anda terlaksana, banyak hal yang bisa terjadi dan bisa anda lakukan.

Salah satu hal penting yang bisa anda lakukansebelum order Bid/Offer terlaksanaadalah membatalkan (withdraw) atau merubah (amend) Bid/Offer tersebut secara sepihak.

Agar lebih jelas, mari kita lihat ilustrasi berikut:

Misalkan harga WTON saat ini adalah 800 dan anda memasang Bid 100 lot di 750. Memasang Bid ini ibaratnya anda berkata pada pasar, "Kalau WTON turun ke 750, gue mau beli 100 lot."

Beberapa saat kemudian saat WTON turun ke 755, anda berkata dalam hati, "Harga 750 kayaknya masih terlalu mahal. Gue turunin aja deh ke 730."

Karena order Bid anda belum terlaksana, anda boleh saja mencabut Bid di 750 dan memasukkan order baru Bid di 730. Ini ibaratnya anda berkata pada pasar, "Kalau WTON turun ke 730, baru deh gue beli."

Saat WTON turun ke 735, anda bergumam, "Kok WTON turun terus ya. Turunin Bid ke 700 aja ah."

Dan hal ini bisa anda lakukan berulang-ulang di bursa. Dan hal ini sah-sah saja.

(Kalau anda berbelanja di pasar dan terus-menerus menurunkan harga penawaran anda, siap-siap saja dibacok si penjual.

"Kaos ini 10.000 boleh gak, bang?"

"11.000 deh."

"Kalau 9.000 boleh gak, bang?"

"Hah?! Tadi nawar 10.000. Kok malah turun 9.000? Boleh deh 10.000"

"Kalau 8.000 boleh gak, bang?"

"Elo mau belanja atau main-main sih? Kalau gak minat, enyah aja deh!")

 
Dari ilustrasi di atas, anda bisa melihat bahwa Bid dan Offer adalah ibarat pepesan kosong, ibarat omdo (omong doang) di bursa saham. Dan di bursa saham, omdo ini bisa saja dipakai pihak-pihak tertentu untuk mempengaruhi pasar.

Artinya, bisa saja pihak-pihak tertentu (bandar) menempel Bid untuk membuat kesan seakan-akan saham tersebut banyak yang mau beli. Atau sebaliknya, bisa juga si bandar menempel Offer untuk membuat kesan seakan-akan saham tersebut banyak yang mau jual. Untuk lebih jelas, silahkan baca pos "Dampak Perubahan Satuan Lot dan Fraksi Harga Saham (Bagian 3).

Pemula yang melihat Bid berjumlah puluhan ribu lot mungkin saja berkesimpulan, "Wah, saham ini banyak yang mau beli. Sebelum ketinggalan, lebih baik saya beli sekarang juga." Masalahnya, bisa saja setelah anda beli, si bandar mencabut Bid dan saham melorot. Saat itu anda hanya bisa gigit jari menyadari sudah digombalin bandar.

Nah, sekarang anda sudah tahu bahwa Bid dan Offer bisa jadi hanyalah pepesan kosong. Pertanyaannya: Bagaimana cara yang benar menyikapi pepesan kosong ini?

Cara yang benar adalah untuk TIDAK membeli ataupun menjual saham hanya berdasarkan Bid dan Offer.

Anda memilih caleg tidak berdasarkan janji-janji surga di baliho dan poster. Anda seharusnya juga tidak membeli saham hanya berdasarkan Bid dan Offer.

"Tapi, bung Iyan," kata anda masih kurang puas, "masa sih posisi Bid/Offer tidak ada gunanya sama sekali untuk memilih saham?"

Oke, sebenarnya ada cara membaca Bid/Offer untuk menentukan apakah saham layak dibeli. Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Cara Membeli Saham Berdasarkan Bid/Offer." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]


Pos-pos yang berhubungan:



Senin, 31 Maret 2014

Perangkat Keras Untuk Bermain Saham

[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Salah satu hal yang membedakan profesional dan non-profesional—selain keahlian (skill)—adalah alat kerja (tools) yang digunakan individu tersebut.

Memiliki kamera canggih tidak serta-merta menjadikan si pemilik sebagai fotografer profesional. Tapi rasa-rasanya sih tidak ada orang yang mau membayar mahal fotografer yang hanya berbekal kamera handphone.

Memang, alat tidak membuat seseorang menjadi profesional; tapi tanpa alat yang memadai seorang profesional sulit melakukan pekerjaannya dengan optimal.

Pertanyaannya: alat apa yang diperlukan untuk bermain saham?

Alat utama yang diperlukan pemain saham adalah monitor untuk memantau harga saham. Monitor ini bisa monitor komputer, tablet (iPad), handphone (smartphone). 

Nah, kalau anda pemain saham non-profesional, memantau harga saham di handphone mungkin sudah memadai. Bagaimana dengan pemain saham profesional? Apakah cukup memantau harga saham hanya melalui smartphone?

Saya sebagai pemain saham profesional hampir tidak pernah memakai smartphone untuk memantau saham.

Bagaimana dengan tablet? Tablet juga tidak saya pakai karena menurut saya layarnya terlalu kecil. Kalau komputer laptop/notebook? Tetap saja, layarnya masih tidak cukup besar.

Jadi bung Iyan pakai apa dong? tanya anda.

Yang saya pakai adalah PC Desktop dengan video card untuk 2 monitor. Artinya, satu komputer bisa menampilkan output di 2 monitor. Saat ini monitor yang saya pakai masih LCD 17 inci yang relatif sudah kuno. Ada rencana untuk mengganti monitor ke ukuran lebih besar tapi tidak terlalu mendesak untuk saat ini.

Lagipula, mengganti sekaligus 4 monitor lumayan juga biayanya.

Kok 4 monitor? tanya anda lagi.

Oh iya, saya belum bilang ya kalau saya menggunakan 2 PC Desktop masing-masing dengan 2 monitor. Jadi, monitor LCD-nya ada 4. Set-up ini sudah saya pakai sekitar 10 tahun dan sampai saat ini cukup memuaskan. Silahkan lihat foto di bawah ini.


Figure 1. Meja trading Iyan

Pos ini tidak menganjurkan anda—kalau ingin main sahamuntuk membeli PC Desktop dengan 2 monitor. Mungkin smartphone, atau tablet, atau notebook sudah cukup untuk anda.

Tapi setahu saya hampir tidak ada pemain saham profesional yang hanya mengandalkan smartphone atau tablet atau notebook dalam menjalankan profesinya. Bahkan, hampir semua pemain saham profesional memakai MINIMUM 2 buah monitor untuk memantau pasar.

Bagaimana dengan anda? Apakah smartphone, tablet, atau notebook cukup untuk anda bermain saham? Atau malahan anda memakai 6 atau bahkan 8 monitor di meja kerja anda? Silahkan meninggalkan komentar di bawah.



Pos-pos yang berhubungan:


Jumat, 21 Maret 2014

Dampak Perubahan Satuan Lot & Fraksi Harga Saham (Bagian 3 - Tamat)

[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Pos ini adalah lanjutan dari pos "Dampak Perubahan Satuan Lot & Fraksi Harga Saham (Bagian 2)."

Untuk membaca pos ini dari awal, silahkan klik di sini "Dampak Perubahan Satuan Lot & Fraksi Harga Saham (Bagian 1)."


Aksi bandar apa saja yang terganggu perubahan fraksi harga saham?

Kalau anda sering memperhatikan "live trading", anda tahu bahwa ada bandar-bandar saham tertentu yang hobi tempel-cabut Bid/Offer. Nah, praktek tempel-cabut Bid/Offer ini termasuk aksi yang terganggu oleh perubahan fraksi harga.

Apa itu aksi tempel-cabut Bid/Offer? Dan mengapa perubahan fraksi harga mengganggu praktek ini?

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat ilustrasi berikut.

Kalau anda sering memperhatikan order book Bid/Offer saham Suparma (SPMA) anda tahu bahwa pada kondisi normal, Bid dan Offer SPMA di setiap fraksi harga (lama ataupun baru) hanya ada beberapa ratus lot. Tapi ada saat-saat tertentuketika bandar hendak "menggoreng" saham tersebuttiba-tiba volume Bid SPMA menjadi puluhan ribu lot.

Yang dilakukan bandar adalah sebagai berikut: untuk membuat kesan seakan-akan transaksi ramai, bandar membeli saham SPMA ke atas, lalu menempel Bid dengan volume besar pada harga tersebut. Dan ini dilakukan berulang kali. Beli ke atas, tempel Bid, beli ke atas, tempel Bid, beli ke atas, tempel Bid.

Aksi tempel Bid ini membuat SPMA naik cepat. Pergerakan harga naik ini menarik perhatian pasar dan ada orang-orang (termasuk saya) yang terpancing ikut membeli.

Ketika bandar merasa sudah cukup banyak "mangsa" yang ikut membeli di harga yang sudah naik ini, si bandar akan mencabut (withdraw) semua Bid di semua fraksi harga: yang tadinya ada Bid puluhan ribu lot, tiba-tiba tersisa hanya ratusan lot. Korban yang panik akan berusaha menjual (cut-loss) tapi karena Bid cuma sedikit, saham langsung anjlok ke harga semula.

Nah, misalkan harga SPMA Rp 250. Pada fraksi harga lama, bandar bisa menaikkan harga saham dengan membeli di 255, lalu menempel Bid 10.000 lot di 255, membeli lagi di 260, menempel Bid 10.000 lot di 260, membeli di 265, menempel Bid 10.000 lot di 265. Kalau hal ini dilakukan terus sampai harga 285, berarti bandar menempel Bid di 7 fraksi harga dan harga saham naik Rp 35 (14%).

Pada fraksi harga baru, aksi menempel Bid di 7 fraksi harga akan membuat SPMA naik dari 250 ke 257. Tapi kenaikan Rp 7 ini hanya 2.8%. Kalau bandar ingin menaikkan SPMA sampai dengan 285, aksi tempel-cabut harus dilakukan 35 kali. Semakin banyak kali berarti semakin banyak kerjaan untuk mendapatkan hasil yang sama. Tidak heran toh kalau bandar yang hobi tempel-cabut Bid/Offer tidak setuju dengan perubahan fraksi harga.

SPMA adalah contoh aksi tempel-cabut Bid/Offer yang kasar. Tapi aksi tempel-cabut yang lebih halus pun terpengaruh perubahan fraksi harga.

Misalkan pada fraksi harga lama saham BWPT Bid/Offer di 2000/2025. Kalau bandar sudah membeli banyak di 2000, ia bisa memasang Offer jual di 2025. Nah, untuk "memaksa" pemain lain membeli di 2025, si bandar akan menempel Bid jumlah lot besar di 2000, katakanlah 20.000 lot. Pemain lain yang mengira Bid ini adalah Bid sungguhan, akan membeli di 2025 karena khawatir kehabisan. Nah, setelah barang milik bandar di 2025 habis terjual, si bandar mencabut (withdraw) Bid-nya di 2000.

Dengan fraksi baru, kalau si bandar melakukan aksi yang sama, ia harus "memaksa" pemain lain membeli dulu di 2005, 2010, 2015, 2020, barulah saham yang ia pasang di 2025 akan laku. Nah, aksi menempel Bid di 5 fraksi harga beresiko lebih tinggi dan menyita lebih banyak waktu dan tenaga daripada aksi menempel Bid hanya di 1 fraksi harga.


Sampai di sini anda sudah melihat bahwa kelompok harga baru seharusnya membuat pasar lebih efisien. Anda juga sudah tahu bahwa fraksi harga baru mempersulit bandar memanipulasi pasar dengan aksi tempel-cabut Bid/Offer. Keduanya adalah hal yang positif bagi pemain saham kecil seperti anda.

Apakah ada dampak lainnya bagi anda? Tentu saja ada.


Dampak perubahan fraksi harga

Kalau anda sudah lama main saham dengan fraksi harga lama, saya yakin anda merasakan bahwa fraksi harga baruyang mempersempit jenjang hargacenderung membuat saham aktif menjadi lebih "volatile" alias lebih bergejolak.

Kok bisa?

Mari kita lihat sebuah ilustrai lagi.

Misalkan anda tertarik membeli saham BRAU yang harganya Rp 200.

Pada fraksi harga lama, posisi Bid/Offer adalah 200/205. Artinya, anda bisa mengantri beli di harga 200 (tapi belum tentu kebagian) atau membeli langsung di harga 205. Perbedaan antara antri beli di Bid dan beli langsung di Offer adalah Rp 5 atau 2.5%.

Pada fraksi harga baru, posisi Bid/Offer adalah 200/201. Artinya, anda bisa mengantri beli di harga 200 (tapi belum tentu kebagian) atau membeli langsung di harga 201. Perbedaan antara antri beli di Bid dan langsung beli di Offer adalah Rp 1 atau 0.5%.

Dengan perbedaan Bid/Offer yang hanya 0.5%, besar kemungkinan banyak pemain saham yang merasa tidak perlu antri di 200 dan lebih baik LANGSUNG membeli di 201.

Katakanlah anda termasuk orang yang niatnya membeli langsung di 201. Tetapi memasukkan order membeli langsung di 201 tidak berarti order tersebut pasti terlaksana. Bisa saja order anda keduluan order beli orang lain. Karena tidak terlaksana di 201, berarti order anda tersebut menjadi order Bid di 201.

Nah, sementara anda menunggu Bid anda di 201 "match", ada orang lain yang berpikir "Wah, daripada nunggu di 201, lebih baik beli langsung di 202 deh." Dan hal ini bisa terjadi berturut-turut, mengakibatkan BRAU naik ke 203, 204, 205, 206,..., 215.

Ketika BRAU naik ke 215, anda berpikir,"Kalau gue tunggu lagi, bisa-bisa BRAU naik ke 230 dan gue belum dapet." Langsunglah anda beli di 215. Tapi apa yang terjadi? BRAU sekarang turun ke 214, 213, 212, 211,..., 205.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Hal ini terjadi karena ada individu yang niat awalnya menjual di Offer 215. Karena tidak laku-laku, ia berpikir,"Aku beli di 205 dan sudah untung. Daripada mengantri lama di 215 tapi belum tentu laku, lebih baik aku jual langsung saja di 214. Lagipula, bedanya toh tidak seberapa."

Masalahnya, ketika BRAU turun ke 214 lagi-lagi ada individu yang berpikir,"Daripada gak laku di 214, lebih baik gue jual langsung deh di 213." Dan hal ini bisa terjadi berturut-turut, menyebabkan BRAU turun ke 213, 212, 212, 211,..., 205. 

Nah, pada fraksi harga baru siklus naik-turun di atas bisa terjadi berkali-kali dalam satu hari.

Apakah ini dampak positif atau negatif?

Bisa positif, bisa juga negatif.

Artinya, kalau anda tahu apa yang seharusnya anda lakukan, anda bisa lebih sering mendapatkan untung dari gejolak harga yang naik-turun berulang-ulang. Tapi kalau anda tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan, anda bisa rugi berkali-kali karena anda membeli di harga tinggi dan cut-loss di harga rendah.

Dari ilustrasi di atas, jelas bahwa fraksi harga yang menyempit membuat volatilitas (gejolak) saham menjadi lebih tinggi. Volatilitas yang lebih tinggi membuka peluang untuk mendapat untung dari harga saham yang naik-turun. (Mohon diingat: membuka peluang mendapat untung TIDAK BERARTI anda pasti mendapat untung.)

Nah, sampai di sini coba anda bandingkan pendapat saya di atas dengan pendapat "pakar-pakar" sok-tahu yang—sebelum aturan fraksi harga baru dilaksanakan—berkoar-koar meminta otoritas bursa membatalkan perubahan fraksi karena menurut mereka fraksi harga baru akan membuat trader lebih sulit mencari untung. 

Logika mereka adalah sebagai berikut: pada fraksi harga lama, beli saham di 200 dan jual di fraksi berikutnya di 205 sudah untung . Dengan fraksi baru, beli di 200 dan jual di fraksi berikutnya di 201 belum untung.

Saya tidak tahu "pakar-pakar" tersebut belajar logika di mana, tapi pendapat tersebut 100% tidak memakai akal sehat. Mengapa? Memangnya ada aturan bahwa anda harus menjual saham hanya 1 fraksi harga ke atas?

Dengan fraksi harga baru, anda bisa membeli di 200 dan tetap bisa menjual di 205 kalau itu yang anda mau. Kan tidak ada yang memaksa anda harus menjual di 201.

"Tapi, dengan fraksi harga baru, memasang jual di 205 kan belum tentu laku," kata pakar-pakar tersebut membela diri.

Memangnya pada fraksi harga lama, anda jual di 205 pasti laku?

Lagian, pada fraksi harga lama kalau saham anda tidak laku di 205 dan anda harus jual, berarti anda harus jual di 200. Pada fraksi harga baru, ada kemungkinan anda bisa jual di 201, 202, 203, atau 204.

Tambahan lagi, dengan gejolak harga yang lebih tinggi, anda bisa beli di 200, jual di 204. Kalau saham masih naik, anda bisa beli lagi di 206 lalu jual di 210. Lalu ketika saham turun lagi ke 203, anda bisa beli lagi, dan jual lagi kalau naik.

Itu teorinya. Prakteknya tentu saja tidak mudah. Tapi yang penting adalah peluang jual-beli makin banyak dengan fraksi harga baru.

Kesimpulannya: Fraksi harga baru yang lebih sempit menguntungkan pembeli dan penjual, mempersulit bandar untuk mengerjai pemain saham-pemain saham kecil, dan menambah peluang mendapatkan untung dari gejolak harga saham. Tidakkah sebaiknya kita sambut dan manfaatkan perubahan tersebut?


Pos-pos yang berhubungan:
  •