Saturday, April 18, 2015

Beli Saham. Jual Untung/Cutloss. Ulangi.

[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Film favorit saya di tahun 2014 adalah Edge of Tomorrow.

Figure 1. Edge of Tomorrow Movie Poster

Di film tersebut Tom Cruise berperan sebagai William Cage, humas U.S. Army berpangkat mayor yang terpaksa harus ikut dalam invasi besar-besaran melawan mimic padahal ia tidak terlatih untuk maju ke medan tempur.

Bahkan pada saat Tom Cruise diterjunkan di medan tempur, ia masih belum tahu cara menembakkan peluru dari "jacket" yang ia kenakan.

Apa yang terjadi?

William Cage berhasil membunuh satu mimic karena faktor kebetulan. Tapi beberapa detik setelah itu, ia tewas dibantai musuh.

Saat itulah kisah William Cage baru dimulai.

Lho? kata anda. Sudah mati kok baru ceritanya dimulai?

Nah, itulah keunikan cerita film ini.

Karena suatu sebab (silahkan anda menonton film tersebut untuk mencari tahu), setiap kali Cage mati, ia seakan-akan bangkit dari mimpi buruk dan harus mengulangi kejadian yang sama. Sampai ia mati lagi.

Hidup. Mati. Ulangi.

Live. Die. Repeat.

Terperangkap dalam siklus ini, Tom Cruise/William Cage memutuskan untuk menganalisa dan belajar dari apa yang ia alami. Dengan melakukan ini ia berharap bisa bertahan hidup lebih lama di siklus berikutnya.

Setelah mati berkali-kali, Cage semakin jago membantai mimic. Apalagi setelah ia dilatih Rita Vrataskidiperankan Emily Bluntsersan yang melegenda sebagai Angel of Verdun karena konon ia membunuh ratusan mimic di medan tempur Verdun.

Sampai di sini mungkin anda bertanya-tanya: apa sih hubungan film tersebut degan main saham?

Mari kita cari analoginya.

Film tersebut menceritakan tentang seorang tentara tanpa pengalaman perang yang akhirnya menjadi jagoan tempur karena ia berkali-kali mengulang pertempuran yang sama. Si tentara bisa mengulang pertempuran karena setiap kali ia melakukan kesalahan dan tewas terbunuh, ia kembali ke hari sebelum ia tewas dan "bangkit" dari mati untuk bertempur lagi.

Kalau saya analogikan hal tersebut dengan main saham: pemula main saham yang sama sekali tidak tahu tentang saham bisa menjadi jago main saham kalau ia berkesempatan "bertempur" sesering mungkin di bursa saham, kalau ia punya ratusan "nyawa" sehingga—walaupun berkali-kali "tewas"bisa bangkit dari "mati" untuk "bertempur" lagi.

Pertanyaannya: Apakah mungkin pemula main saham bisa punya banyak "nyawa" untuk bertempur di medan laga saham?

Tentu.

Tapi berbeda dengan William Cage, si pemula sendirilah yang berkewajiban mengatur persediaan "nyawa"nya di perang saham.

Lho, kok gitu?

Iya gitu, karena "nyawa" ketika bertempur di medan laga saham adalah modal.

Artinya, selama modal masih ada, "nyawa" si pemain saham belum habis.

Mengapa?

Karena, selama modal masih ada, si pemula main saham bisa bangkit dari "mati" (posisi rugi) untuk bertempur lagi. Dan dengan terus mengulang bertempur, si pemula lambat-laun akan menjadi mahir.

"Tapi bung Iyan," tanya anda,"bagaimana caranya pemula main saham mengatur persediaan "nyawa" agar tidak habis-habis?

Ada 2 cara.

Cara pertama?

Cut-loss.

(Silahkan baca juga pos "Mau Main Saham? Ingat Tiga Hal Maha Penting Ini.")

Memang sih, dengan melakukan cut-loss sedini mungkindengan menjual saham ketika kerugian masih kecilmodal anda berkurang.  Tapi berkurangnya hanya sedikit. Dengan modal yang berkurang sedikit ini, anda tetap bisa berlaga di medan perang saham dan memetik pengalaman lebih banyak.

Cara kedua?

TIDAK mencemplungkan SEKALIGUS semua dana investasi saham ketika anda baru belajar.

(Silahkan baca juga pos "Berapa Sebaiknya Modal Awal Main Saham?")

Artinya, pada tahun pertama belajar main saham, jangan mencemplungkan semua dana yang ada. (Lebih jangan lagi kalau anda bermain saham dengan uang pinjaman berbunga tinggi.) Alokasikan dana untuk tahun kedua, ketiga, keempat, kelima belajar main saham, yang hanya boleh anda cemplungkan ketika waktunya tiba.

Dengan sistem injeksi modal bertahap, setidak-tidaknya modal anda akan bertahan selama 5 tahun. Harapannya, dalam waktu 5 tahun tersebut anda sudah banyak pengalaman berperang saham dan bisa mulai mendapatkan untung.

Live. Die. Repeat.

Beli Saham. Jual (untung ataupun rugi). Ulangi.

"Tapi bung Iyan," saya mendengar beberapa dari anda protes,"saya tidak mau menunggu 5 tahun. Saya mau CEPAT KAYA dari saham."

Nah ini dia.

Cepat kaya dari main saham hanyalah mitos yang digembuskan penjual seminar saham (atau forex atau commodities atau options) untuk menjeremuskan orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang saham. Kalau anda ikut seminar-seminar seperti ini, yang terjadi adalah anda MEMBAYAR MAHAL UNTUK bermimpi menjadi cepat kaya, tapi yang terjadi adalah anda RUGI BESAR.

Mengapa?

Karena dengan mereka menjanjisurgakan "cepat kaya," anda beranggapan bahwa mendapat untung dari main saham adalah hal yang sangat mudah. Karena mengira mudah, anda tidak berhati-hati. Karena tidak berhati-hati, anda langsung mencemplungkan semua modal anda dan tidak mau cut-loss. Karena tidak cut-loss dan tidak mengalokasikan dana untuk jangka panjang, "nyawa" anda (sebanyak apapun) akan habis dalam sekejab.

(Silahkan baca juga pos "Main Saham Cepat Kaya?"

---##$##---

William Cage berhasil menjadi prajurit tangguh karena secara kebetulan ia bernyawa banyak. Berbeda dengan dia, anda bisa menjadi pemain saham tangguh TANPA faktor kebetulan. Tapi anda harus DISIPLIN cut-loss dan DISIPLIN mengalokasikan dana agar "nyawa" anda bisa bertahan selama mungkin.

Dengan melakukan kedua hal tersebut, saya yakin anda akan menang berlaga di perang saham.






Pos-pos yang berhubungan:

Friday, March 27, 2015

Analisa Teknikal Open High Low Close (OHLC), Bagian 2

[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Pos ini adalah lanjutan dari pos "Analisa Teknikal Open High Low Close (OHLC), Bagian 1."

Saya tulis di pos "Analisa Teknikal Open High Low Close, Bagian 1" bahwa saat membandingkan harga High, Low, Close, kita bisa membandingkan High, Low, Close bukan hanya dengan High, Low, Close hari sebelumnya tapi juga dengan High, Low, Clos hari-hari sebelumnya.

Bagaimana caranya?

Nah, sekarang saatnya anda membuka file data harga saham Open High Low Close yang anda input secara manual selama minimum 3 bulan (seperti yang saya sarankan di pos "Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula").

Tabel 1. Data Open High Low Close ASII Maret 2009
 
[Perhatikan bahwa Tabel 1 berisi data tahun 2009 di mana fraksi harga saham berbeda dengan fraksi harga saat ini. Saya sengaja memakai data tersebut untuk menunjukkan bahwa prinsip dasar analisa teknikal berlaku untuk berbagai kondisi yang berbeda. Jadi, walaupun fraksi harga saham berubah, prinsip-prinsip dasar analisa teknikal tidak berubah.]


Menandai Harga Close

Sekarang saatnya anda menandai harga Close.

Caranya?

Kalau harga Close hari ini lebih tinggi dari Close hari sebelumnya, tandai kotak Close tersebut dengan warna hijau.

Kalau harga Close hari ini lebih rendah dari Close hari sebelumnya, tandai kotak Close tersebut dengan warna kuning.

Kalau harga Close hari ini sama dengan Close hari sebelumnya, tandai kotak Close tersebut dengan warna hari sebelumnya.

Silahkan lihat Tabel 1 data harga Open High Low Close ASII di atas.

Perhatikan bahwa pada tanggal 02 Maret 2009 harga Close ASII adalah 10.850. Karena ini adalah data pertama, kotak harga Close tersebut tidak ditandai.

Lanjut ke tanggal 03 Maret 2009: harga Close ASII = 10.800.

Karena 10.800 lebih rendah dari 10.850 (harga Close hari sebelumnya), tandai kotak 10.800 tersebut dengan warna kuning.

Lanjut ke tanggal 04 Maret 2009: harga Close ASII = 11.000.

Karena 11.000 lebih tinggi dari 10.800 (harga Close hari sebelumnya), tandai kotak 11.000 tersebut dengan warna hijau.

Kalau anda melakukan hal di atas untuk hari-hari berikutnya, hasil yang anda dapatkan adalah seperti Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Data Open High Low Close ASII Maret 2009, Close ditandai


Menandai Harga High & Low

Setelah selesai dengan Close, lakukan hal yang serupa dengan harga High dan Low.

Caranya?

Kalau harga High hari ini lebih tinggi (atau sama dengan) High hari sebelumnya, tandai kotak High tersebut dengan warna hijau. Kalau High hari ini LEBIH RENDAH dari High hari sebelumnya, biarkan kotak tersebut tanpa warna.

Kalau Low hari ini lebih rendah (atau sama dengan) Low hari sebelumnya, tandai kotak Low tersebut dengan warna kuning. Kalau Low hari ini LEBIH TINGGI dari Low hari sebelumnya, biarkan kotak tersebut tanpa warna.

Silahkan lihat lagi Tabel 2 data harga Open High Low Close ASII di atas.

Perhatikan bahwa pada tanggal 02 Maret 2009 harga High ASII adalah 11.450 dan harga Low ASII adalah 10.750. Karena ini adalah data pertama, kotak harga High dan Low tersebut tidak ditandai.

Lanjut ke tanggal 03 Maret 2009: harga High ASII =10.900, harga Low ASII = 10.600.

Karena harga High 10.900 LEBIH RENDAH dari 11.450 (High hari sebelumnya), biarkan kotak 10.900 tersebut tanpa ditandai. Alihkan perhatian ke Low. Karena harga Low 10.600 lebih rendah dari 10.750 (Low hari sebelumnya), tandai kota 10.600 tersebut dengan warna kuning.

Lanjut ke tanggal 04 Maret 2009: harga high ASII = 11.050, harga Low ASII = 10.700.

Karena harga High 11.050 lebih tinggi dari 10.900 (High hari sebelumnya), tandai kotak tersebut dengan warna hijau. Alihkan perhatian ke Low. Karena harga Low 10.700 LEBIH TINGGI dari 10.600 (Low hari sebelumnya), biarkan kotak 10.700 tersebut tanpa ditandai.

Kalau anda melakukan hal di atas untuk hari-hari berikutnya, hasil yang anda dapatkan adalah seperti Tabel 3 di bawah ini.

Tabel 3. Data Open High Low Close ASII Maret 2009, Close High Low Ditandai


Bagaimana cara menandai harga Open?

Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Analisa Teknikal Open High Low Close (OHLC), Bagian 3." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:

Tuesday, February 10, 2015

Analisa Volume Saham Pertama Untuk Pemula

[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Di pos "Analisa Volume Transaksi Saham Untuk Pemula. Perlukah?" saya menyarankan pemula untuk konsentrasi mempelajari pergerakan harga saham dan jangan menghabiskan terlalu banyak waktu mendalami volume transaksi saham. Tapi sebenarnya ada satu analisa volume transaksi saham yang PERLU diketahui pemula.

Analia volume apakah itu?

Analisa volume yang saya maksud adalah:

JANGAN BELI saham yang volume transaksinya kecil.

Mengapa?

Pertama, saham yang volume transaksinya kecil berarti tidak ramai pembeli dan penjual. Karena transaksi yang sepi ini, anda kemungkinan sulit membeli dan menjual saham tersebut di harga yang anda inginkan karena harga Bid dan harga Offer (bid/ask spread) terpaut jauh. (Kalau anda belum tahu arti Bid dan Offer, silahkan baca pos "Istilah 'Bid' dan 'Offer' Ketika Bermain Saham.")

Figure 1. Bid/Offer IMPC 11 Feb 2015 [Sumber: Indo Premier Online Trading (IPOT)]


Kedua, volume transaksi yang kecil juga bisa jadi menyulitkan anda membeli/menjual saham dalam jumlah yang anda inginkan.

Dua hal di atas adalah alasan utama mengapa saya menyarankan pemula untuk menghindari saham-saham yang volume transaksinya kecil.

Tapi masalahnya, "besar" dan "kecil" adalah sesuatu yang relatif.

Transaksi harian 50.000 lot untuk saham UNVR bisa dikategorikan volume yang besar. Sedangkan transaksi harian 500.000 lot untuk saham BUMI bisa dikategorikan volume yang kecil.

Lagipula, pemain saham bermodal besar mungkin menganggap membeli 1.000 lot ASII adalah jumlah yang kecil. Sedangkan pemain bermodal kecil bisa jadi menganggap membeli 10 lot ASII adalah jumlah yang besar.

Kalau begitu, apakah ada cara sederhana untuk menentukan apakah volume transaksi suatu saham relatif cukup "besar" untuk ditransaksikan pemain saham pemula?

Tentu.

Cara tersebut saya namakan Analisa Pertama Volume Transaksi untuk Pemula yang berbunyi:

JANGAN membeli saham MELEBIHI 1/1.000 volume transaksi saham tersebut di hari sebelumnya.

Dengan kata lain, volume transaksi saham hari sebelumnya MINIMUM HARUS 1.000x lipat dari jumlah saham yang ingin anda beli. 

Dengan memakai aturan ini dengan mudah anda bisa menentukan apakah volume transaksi saham yang ingin anda beli termasuk "besar" atau "kecil." 

Kalau volume transaksi hari sebelumnya LEBIH dari 1.000x lipat dari jumlah saham yang ingin anda beli, ini berarti volume saham tersebut cukup "besar" untuk anda. Silahkan membeli saham tersebut sejumlah yang anda inginkan.

Kalau volume transaksi hari sebelumnya KURANG dari 1.000x lipat dari jumlah saham yang ingin anda beli, ini berarti volume saham tersebut terlalu "kecil" untuk anda. Sebaiknya anda membatalkan niat anda membeli saham tersebut. 


Contoh 1:

Misalkan anda ingin membeli 100 lot saham NRCA yang ditransaksikan 150.000 lot pada hari sebelumnya.

Apakah volume saham NRCA cukup "besar" untuk anda beli?

Volume transaksi hari sebelumnya = 150.000 lot

1.000 x 100 lot (jumlah yang ingin anda beli) = 100.000 lot

Volume transaksi hari sebelumnya (150.000 lot) LEBIH BESAR daripada 1000x lipat jumlah yang ingin anda beli (10o.000 lot).

Kesimpulan: Volume transaksi NRCA termasuk "besar" untuk anda dan anda boleh membeli NRCA sejumlah 100 lot.


Contoh 2:

Bagaimana kalau anda tertarik membeli saham MAYA sebanyak 10 lot?

Misalkan anda melihat data bahwa MAYA ditransaksikan 1.000 lot pada hari sebelumnya.

Volume transaksi hari sebelumnya = 1.000 lot

1.000 x 10 lot (jumlah yang ingin anda beli) = 10.000 lot

Volume transaksi hari sebelumnya (1.000 lot) LEBIH KECIL daripada 1.000x lipat jumlah yang ingin anda beli (10.000 lot).

Kesimpulan: Volume transaksi MAYA termasuk "kecil" untuk anda dan sebaiknya anda menghindari saham tersebut.

"Tapi, bung Iyan" kata anda memelas,"saya kepengen banget punya saham MAYA. Bagaimana nih?"

Kalau anda bersikeras tetap mau membeli MAYA, anda boleh membeli MAKSIMUM sejumlah:

(1/1.000) x 1.000 lot (volume transaksi hari sebelumnya) = 1 lot


Saya harap aturan di atas mempermudah anda memilih saham yang volume transaksinya cukup "besar".









Pos-pos yang berhubungan: